Jumat, 11 Juli 2008

Ulasan Kumpulan Puisi

“MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA”

PRASASTI REFORMASI 1998 DALAM BENTUK PUISI

Oleh: Suhardi, S.Pd.

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia

SMA N 1 Sumber, Kab. Rembang – Jawa Tengah

(Artikel ini pernag dimuat dalam majalah Talenta terbitan Dinas P dan K Jateng)

Manusia adalah makhluk kreatif dan dinamis yang tak kerasan dalam satu keadaan terus-menerus. Setiap hari dan setiap zaman selalu membutuhkan perubahan. Perubahan itu bisa jadi hanya variasi-variasi kecil dalam kehidupan sehari-hari, namun bisa pula perubahan besar-besaran yang berbentuk revolusi sosial. Mungkin benar kata Hirschman (1982), bahwa terjadinya perubahan sosial adalah akibat sifat manusia yang pembosan. Demikian juga dengan masyarakat Indonesia, sejak lahirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, tidak pernah puas dengan kondisi yang ada. Perubahan demi perubahan itu ditangkap oleh Taufiq Ismail yang sepanjang kreativitas kepenyairannya senantiasa peka terhadap gejala sosial di Indonesia dan bahkan dunia. Sehingga, lahirlah puisi-puisi khas ciptaannya yang memotret dengan apik setiap perubahan di Indonesia. Saat peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru Taufiq Ismail melahirkan kumpulan puisi Tirani dan Benteng (1966) dan ketika reformasi bergulir terbitlah Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998). Tentu saja bukan hanya itu buku kumpulan puisi yang telah dihasilkan oleh Taufiq Ismail. Banyak pula puisi dengan ragam tema lain di luar konteks perubahan sosial, karena penyair ini selalu berkarya sepanjang waktu walau sedang tidak ada hiruk-pikuk pergolakan sosial.

Di tangan Taufiq Ismail apa saja bisa menjadi puisi. Karena itu kumpulan puisi ini merambah banyak persoalan. Konsep kepenyairannya jelas terbaca pada puisi terakhir dalam kumpulan ini, dan lebih jelas lagi dalam tulisan penutupnya.

Puisi mencatat semua, menyampaikannya kembali

dengan sentuhan yang indah dan penuh keharuman

mengulangi ini lewat daurnya sendiri-sendiri

berabad lamanya beriringan

………………………………..

Puisi dengan penuh rasa khawatir, curiga dan cemburu

menyaksikan dedaunan, pepohonan, unggas, ikan,

cuaca, zat asam, sususan syaraf, sungai, danau, lautan

bercakap serak dan gagu dengan sesamanya

…………………………

Puisi menangisinya, mencatatnya

Dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram dan naik darah.

Puisi menepuk bahu dan coba mengingatkan.

(Sejarum Peniti Sepunggung Gunung hal. 194-196)

Kepekaan Taufiq Ismail akan realitas kehidupan menjadikan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia seolah tidak menyisakan satu persoalan pun untuk terlewatkan. Baik yang berskala global seperti Surat Amplop Putih Untuk PBB (hal. 159), hingga pernik kecil dalam kehidupan yang mungkin banyak orang tidak menganggapnya penting, misalnya Tentang Joki Jam Sembilan Pagi (hal. 191). Dalam konteks perubahan di Indonesia, setiap ada isu menonjol dalam masyarakat tak ada yang terlewat. Dari peristiwa besar yang menjadi tonggak perubahan penting seperti runtuhnya Orde Baru, hingga persebakbolaan Indonesia yang tak pernah berprestasi di tingkat internasional.

Peristiwa besar dan kecil bagi Taufiq Ismail tak ada bedanya, semua bisa menjadi pemicu pikiran dan perasaannya untuk berelaborasi panjang lebar dan merenung dalam-dalam. Inilah barangkali yang merupakan salah satu bentuk implementasi konsep berpikir lateral (Edward de Bono, 1989). Semua persoalan dikritisi dari segala segi. Hasilnya banyak hikmah yang bisa dipetik pembaca.

Kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama meliput 46 puisi, bagian kedua mencakup 49 puisi, dan bagian ketiga berisi 11 puisi. Seluruhnya menjadi 106, padahal di cover hanya disebutkan 100 puisi. Tulisan ini membahasnya dalam bingkai puisi sebagai potret gerakan reformasi 1998, khususnya pada bagian pertama dengam tidak mengabaikan sama sekali dua bagian berikutnya.

Bagian pertama hampir semuanya merupakan rekaman setiap unsur perubahan; baik penyebab, proses, maupun akibat perubahan yang terjadi selama awal gerakan reformasi di Indonesia. Bahkan puisi berjudul Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040 Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu (hal. 52) mengandung unsur futurologi (ramalan masa depan).

Bagian pertama yang merupakan bagian terpenting dari kumpulan ini bersubjudul sama dengan judul buku kumpulan ini. Sedang dua bagian berikutnya –Kembalikan Indonesia Padaku dan Sejarum Peniti Sepunggung Gunung- adalah puisi-puisi yang ditulis sebelum gelombang reformasi melanda Indonesia, sejak tahun 1966 hingga 1997. Dengan begitu penulis yakin bahwa penerbitan kumpulan ini bertolak dari maksud mengabadikan peristiwa runtuhnya Orde Baru dan munculnya Era Reformasi. Oleh karena itu, bolehlah disebut bahwa kumpulan puisi ini merupakan prasasti reformasi 1998 dalam wujud puisi.

Dengan keyakinan seperti itu, membahas kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia tidak mungkin dilepaskan dari peristiwa bersejarah sekitar Mei 1998. Gelegak demonstrasi yang gegap-gempita di sekitar gedung DPR rupanya menjadi sajian teater sejarah yang amat memukau Taufiq Ismail. Kita semua juga terpukau, nyatanya. Demonstrasi-demonstrasi massal para mahasiswa seolah tarian kolosal dalam suatu pertunjukan. Orasi silih berganti dan spanduk-spanduk yang ber-seliwer-an di layar sejarah mengusung ragam tema yang sebelumnya tabu dibicarakan, menjadi sumber inspirasi penulisan puisi-puisinya. Misalnya, mengejek UUD’45 sebagai Uang Uang Dasar Empat Lima dan mem-pleset-kan sila pertama Pancasila menjadi Keuangan Yang Maha Esa (hal. 28). Kritik terhadap penyimpangan Pancasila secara konsisten dilakukan oleh Taufiq Ismail sejak tahun 1979. Dalam puisi berjudul Pacuan Kuda (hal. 107-109) antara lain tertulis Keuangan Yang Maha Esa adalah Kalimat Yang Pertama! Prok-prok-prok!

Munculnya tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Amin Rais, hingga adegan lengsernya Presiden Soeharto silih berganti di panggung reformasi adalah adegan-adegan jejer atau blocking dalam pementasan sejarah. Walau tak disebut nama-nama mereka dalam puisi, namun pokok-pokok laku dan ucapan mereka tak terlewat menjadi bagian dari puisi-puisi Taufiq Ismail.

Perubahan sosial sejak Mei hingga September 1998 telah menjadi fokus sorotan puisi-puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, khususnya bagian pertama. Hanya dalam waktu lima bulan Taufiq Ismail menghasilkan 46 puisi yang kemudian menjadi inti buku kumpulan puisi ini. Kalau dirinci berarti dalam seminggu bisa lahir dua atau tiga karya. Suatu produktivitas yang paling besar dibanding tahun-tahun lainnya. Semua itu menunjukkan kepekaannya terhadap isu-isu perubahan sosial dan tak ingin melewatkan satu unsur pun yang berperan dalam proses perubahan.

Judul bagian pertama diangkat dari judul salah satu puisi yang ada pada urutan ke-13, yaitu Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (hal. 19). Seharusnya puisi ini ditempatkan pada awal buku, karena tema yang diangkat bersifat merangkum hampir semua tema yang tersebar ke dalam 45 puisi lainnya pada bagian pertama itu. Dengan demikian struktur penyajian isi bagian pertama mengikuti pola piramida terbalik atau deduktif. Namun, rupanya susunan penyajian lebih didasarkan kepada kronologi kelahiran setiap puisi, suatu cara yang disarankan oleh H.B. Jassin. Sayangnya, karena di setiap akhir puisi hanya tercantum angka tahun, tidak ada tanggal dan bulan, maka orang hanya bisa menduga kalau urutan itu bersifat kronologis.

Penulis membayangkan, Taufiq Ismail selama lima bulan itu memelototi setiap peristiwa sosial politik, baik melalui televisi, koran, atau radio. Tema-tema orasi para demontran dan tokoh tidak ada yang terlewatkan. Semua harus ditulis menjadi puisi. Di satu sisi ini terbukti meningkatkan produktivitasnya secara luar biasa, namun di sisi lain membuat beberapa puisinya dangkal, kurang elaborasi, kurang perenungan, dan cenderung mengulang-ulang pengungkapan hal yang sama. Kedangkalan itu misalnya terdapat pada Takut ’66, Takut ’98 (hal. 3) dan Orang Indonesia Gagap Berbahas Inggeris (hal. 16). Pada puisi-puisi lain, seperti Kotak Suara (hal. 12) dan Komisi (hal. 38) penyair bisa dengan begitu panjang lebar mengelaborasi suatu persoalan. Memang, keindahan dan kedalaman makna sebuah puisi tidak diukur oleh panjang pendeknya tulisan. Tetapi, kurang menukiknya analisis persoalan memaksa pembaca kehabisan energi untuk mencari-cari di mana letak indah dan berbobotnya suatu karya.

Menyuguhkan Tema-tema Lintas Dimensi

Seorang sejarawan sekaligus sastrawan –Kuntowidjoyo-, dalam pengantarnya menyebut puisi-puisi Taufiq Ismail sebagai ‘dokumen sejarah’ dan menganggap sang penyair sebagai ‘pencatat sejarah’. Di bagian penutup kumpulan puisi itu, Taufiq Ismail sendiri mengaku bahwa puisinya adalah puisi berkabar. Dalam istilah Herman J. Walujo (1997) disebut puisi prosais atau naratif. Berkabar bisa berarti sangat luas, namun yang dimaksud tentu berkabar tentang kejadian-kejadian yang menjalin mata rantai perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dan memang tema seputar peristiwa sejarah itulah yang mendominasi kabar yang disampaikan lewat puisinya. Dua sisi yang sejalan ini menguatkan keyakinan bahwa Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia memang banyak berbicara soal sejarah.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah, buat apa peristiwa sejarah dicacat dalam puisi, bukanlah para ahli sejarah sudah pasti akan merekam setiap detil peristiwa dalam file-file mereka? Setiap kronologi peristiwa tidak akan ada yang terlupa, lengkap dengan bulan, tahun, hari, tanggal, dan jamnya. Bahkan mungkin menit dan detik-detiknya. Tak terlewat setiap pihak yang terlibat. Tak terlupa dampak, sebab, dan akibatnya. Orang tinggal membuka buku sejarah untuk mengetahui semua peristiwa yang pernah melanda negeri ini. Untuk apa seorang sastrawan harus menceburkan diri ke wilayah sejarah. Bukankah dalam paradigma dunia modern sudah ada diferensiasi dan pembagian kerja. Ranah sejarah biarlah diurusi para sejarawan, karena merekalah yang mengetahui teknik dan metodologi penulisan sejarah. Tugas sastrawan, terutama penyair, adalah mengurus seni berbahasa, mencipta sebanyak mungkin untaian kata-kata indah penuh estetika.

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus kembali kepada hakikat kehidupan sebagai suatu keutuhan. Masyarakat Indonesia pada dasarnya suatu objek tunggal. Seolah seonggok benda tiga dimensi yang dapat dilihat dari berbagai sudut. Pandangan dari sudut sosial akan menghasilkan deskripsi sosiologis. Penglihatan dari sisi ekonomi akan membuahkan gambaran ukuran-ukuran rugi laba dan sejenisnya. Begitu pula jika seorang sejarawan, penyair, dan berbagai disiplin lain melihat bangsa Indonesia dari kaca mata bidang kerja masing-masing. Mereka akan mengurai hasil analisisnya sesuai kerangka berpikir masing-masing. Akan tetapi, satu hal yang pasti, bahwa objek yang dilihat tetaplah hanya satu, yaitu bangsa Indonesia juga.

Dengan berpikir holistik seperti ini, kita akan lebih mampu menempatkan kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia sebagai sebuah karya lintas dimensi. Dimensi sastra yang berjalin dengan dimensi sejarah, sosiologi, hukum, ekonomi, moral, dan budaya. Kumpulan puisi ini tidak mau hanya melihat dari satu sisi. Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas dan komprehensif, objek harus dilihat secara holistik. Kalau ingin mengetahui sejarah Indonesia (khususnya masa reformasi) bacalah buku ini. Kalau ingin memahami kondisi sosial budaya Indonesia sekitar tahun 1998, bacalah buku ini. Kalau ingin memahami perekonomian Indonesia saat itu, bacalah puisi-puisi ini. Kalau ingin mengetahui wajah praktik hukum di Indonesia, baca pula buku ini. Dalam soal makna dan posisinya sebagai sebuah karya sastra, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia jelas akan menjadi sumber pendidikan moral bangsa Indonesia. Berbagai dimensi kehidupan bangsa Indonesia berhasil dipotret secara baik oleh Taufiq Ismail.

Kumpulan puisi ini memiliki keunikan, bobot, dan makna tersendiri. Salah satu keunikannya adalah keberhasilan Taufiq Ismail mengawinsilangkan sastra dengan sejarah. Banyak puisi dalam kumpulan ini yang memadukan sifat-sifat disiplin sejarah yang kaku, apa adanya, dan cenderung mati dalam menuturkan segala peristiwa; dengan keindahan subjektif yang matang dengan segala alternatif interpretasi dan luapan perasaan seorang penyair yang telah teruji. Simaklah penggalan berikut ini:

Di tahun sembilan delapan, seperti geledek bersambaran

Ketika situasi tiba-tiba berjalan balik kanan

Setelah empat windu orang pegal menunggu

Beberapa detik perubahan mirip telapak tangan dibalikkan

Tiba-tiba banyak betul orang entah dari mana orasi berapi-api

Menuduh menyalahkan sana, menyombong membenarkan sini

Merasa hebat, pintar dan benar sendiri

Pidato-pidato patriotik begitu bising, hampa dan berserakan

Cuma sedikit dapat dicatat yang agak berisi

Saksikan adegan penculikan dan penembakan

Luar biasa terjadi penjarahan dan pembakaran

100 juta orang jatuh miskin dan dihimpit pengangguran

(Tiga Tangga Sama Kau Daki Berulang Kali, hal. 25)

Penggalan puisi di atas menuturkan peristiwa nyata dalam sejarah yang menjadi tonggak awal reformasi di Indonesia. Deskripsi sejarah pasti akan menuturkan dengan lugas dan kaku bahwa pada bulan Mei 1998 telah terjadi gelombang unjuk rasa menuntut perombakan total pemerintahan Orde Baru yang dinilai korup selama bertahun-tahun. Banyak orang berdemonstrasi dan berpidato menuntut perubahan, karena pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto dianggap tidak mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, ratusan juta penduduk jatuh miskin gara-gara krisis ekonomi. Tentara penghalau pengunjuk rasa menembaki para demonstran hingga ada empat orang mahasiswa yang tewas, serta banyak aktivis lain diculik. Akhirnya Presiden Soeharto pun lengser.

Fakta sejarah di atas oleh Taufiq Ismail telah diolah dan dipoles dengan sentuhan seni sastra. Hasilnya sungguh jauh berbeda dengan cerita sejarah. Penyair memasukkan unsur estetika dalam bentuk metafor-metafor, imaji-imaji, dan idiom-idiom seni bahasa. Semua itu masih dicampur dengan penilaian subjektif, interpretasi, kritik dan sindiran, kesinisan-kesinisan, serta berbagai ungkapan perasaan pribadi. Suatu campuran fakta dengan subjektivitas dalam komposisi formula khas yang hanya dimiliki oleh Taufiq Ismail. Sebuah sosok yang dalam dunianya cukup memiliki otoritas dan legitimasi.

Deskripsi sejarah memberikan segenap fakta yang kering. Seolah sebatang kayu yang mati dan kering digeletakkan begitu saja di hadapan pembaca. Tidak ada gelora semangat, tidak ada penilaian baik dan buruk. Sementara itu, puisi di atas dengan sikap yang jelas kritis terhadap perubahan, penyair menyampaikan pendirian dan kata hati nuraninya. Kayu kering mati telah diukir dan dibentuk. Oleh karena itu, puisi tersebut menjadi hidup dan menghidupkan, indah dan memperkaya imajinasi. Bukan sekedar kumpulan fakta dan data yang tak berjiwa, seperti daftar nama dan angka dalam buku telepon.

Puisi-puisi Euforis

Kondisi stagnan biasanya cenderung membosankan. Dalam kebosanan akibat mandegnya situasi sosial membuat banyak orang mengharapkan terjadinya perubahan. Apalagi jika kemandegan itu telah begitu lama (30 tahun lebih pemerintahan Orde Baru) yang di ujung riwayatnya nyata-nyata mengecewakan dan sangat represif. Tiba-tiba situasi berbalik. Segala ketidakbolehan yang selama ini ditegakkan demi stabilitas sosial, serta-merta lepas satu per satu sendi-sendinya dan secara pasti ambruk berantakan. Dalam situasi seperti itu terjadilah euforia (euphoria) di antara orang-orang yang lama merasakan tekanan. Mereka merasa senang dan bahagia secara jasmani dan rohani, begitu riak-riak perubahan mulai menjalar dan akhirnya menggelombang dan membadai sehingga lengserlah penguasa puncak Orde Baru. Euforia inilah yang mewarnai nada dan suasana bagian pertama kumpulan puisi ini.

Euforia perubahan menjalar di mana-mana, termasuk pada diri Taufiq Ismail yang oleh H.B. Jassin disebut sebagai Pelopor Angkatan 66 dengan ciri khas puisi demontratif. Penyair ini menulis banyak sajak demonstrasi mengiringi gerakan mahasiswa tahun 1966 yang menentang rezim Orde Lama. Ketika sejarah berulang, euforia itu pun muncul dalam diri Taufiq Ismail sehingga lahirlah sajak-sajak euforis yang kemudian dikumpulkan dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Penulis menyebut kumpulan puisi ini, terutama pada bagian pertama, sebagai sajak-sajak euforia karena ungkapan-ungkapan artistik yang digunakannya dan tema-temanya berulang. Selain itu, puisi-puisi dalam kumpulan itu banyak menggunakan ungkapan yang bernada menghujat, mengejek, dan menilai buruk objek-objek yang disorotinya. Dua kutipan berikut mewakili beberapa contoh yang ada.

Bertahun-tahun berbelas mungkin berpuluh ucapan

Sebagai omong kosong masih kami coba tahankan

Antara kekebalan dan kebebalan sudah sukar dibedakan

…………………………………….

Seluruh negeri curiga tayangan itu riya dan dusta

……………………………………

Pemuka negeri ini pura-pura saja ber-Pancasila

……………………………………

Cinta Rupiah (halalamn 11).

Atau ungkapan yang lebih keras seperti yang ada dalam puisi berjudul Proklamasi Generasi Si Toni Tertua 30 Tahun (hal. 76).

Beratus juta ditipu wajah-wajah terpelajar dan bahkan kebapakan

Kalau omong ababnya kosong, kosa kata tak ada remnya

Berpolitik penuh intrik, moordenaar ganas dalam pembantaian

Lihatlah semua cuci tangan tapi darah bepercikan di kemeja

Para peracik tuba pikiran dalam 1000 penataran

Seperti berisi kaidah ilmu tapi dalamnya sejari saja

Sejak muda sampai keriputan urusan duit lincah cekatan

Referensi suci mereka Uang Uang Dasar Empat Lima

Perencanaan dan visi mereka seperti tinggi penuh sofistikasi

Tapi implementasi di lapangan, kerja bandit Sicilia sejati

Ekstrim tengah duit-fungsi, menggergasi jadi fanatikus multi-fungsi

Bagai haus air lautan tak tertahan berwindu minum lagi minum lagi

Hasil bumi, tambang dan hutan daerah disedot pusat keserakahan

Semua pelaku di atas sana kecuali tanpa, kaya harta luar biasa

Super spesialis dalam penginjakan dan penekanan

Perubah sejarah penghapus nama sangat entengnya

Tukang ancam, pakar penyadapan, cekatan pelarangan

Ahli manipulasi semua laporan tertulis mata-mata

Tukang bedah perut partai, peniup-niup isu, pemecah-mecah golongan

Pencencang demokrasi, penyulap total trias politika

Demikian ringan tak sungkan membagi kursi majelis dan dewan

Karena tak terbantah kursi-kursi itu sejak dulu milik nenek mereka

Sekali lima tahun menipu hitungan suara, kerja para penjahat kambuhan

Anehnya, Taufiq Ismail dalam puisi Gurindam Dua (Kedua) mengejek demonstran dan masyarakat luas seperti berikut ini:

Mei dan Juni ini bukan main 100.000 orasi

Agaknya cuma 100 pantas didengar dan berisi

Tertekan lama, sangat menggebu-gebu bicara

Lihatlah ludah berlentingan dari mulut mereka.

Padahal, dia sendiri dilanda euforia yang sama. Kalau boleh beranalogi sekali lagi, puisi Gurindam Dua (Kedua) ibarat jari telunjuk yang mengarah ke orang lain. Sementara itu empat jari lain menunjuk ke arah diri sendiri.

Selain itu, sebagaimana orang yang kesal, geram, dan kecewa, Taufiq Ismail selama tahun 1998 juga menghasilkan beberapa puisi yang isinya mengulang-ulang persoalan yang sama. Sebuah persoalan tidak cukup dibicarakan dalam satu kali kesempatan, tetapi sering ditegaskan lagi dalam kesempatan lain. Perilaku seperti ini mirip dengan orang marah dan geram atas suatu hal. Kegeraman membuat Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia sebagai cerocosan membabi buta, yang penting menohok dan menyerang sasaran kritik. Sekali ditonjok tidak mempan, tonjokan kedua dan ketiga pun dilayangkan. Luapan kekesalan yang berulang dan bertegasan banyak terjadi pada sikap penyair terhadap masalah hukum, kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, dan kemerosotan akhlak. Dalam puisi berjudul Yang Selalu Terapung di Atas Gelombang (hal. 9) diungkap masalah-masalah antara lain kepincangan hukum, korupsi, merosotnya rupiah, dan perilaku orang kaya. Penyair seolah merasa perlu menegaskan kembali persoalan-persoalan itu sehingga masalah kepincangan hukum diungkap lagi dalam puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (hal. 19), masalah merosotnya nilai rupiah diangkap kembali dalam puisi berjudul Cinta Rupiah (hal. 11), masalah perilaku orang kaya nan boros diungkap lagi dalam puisi Surat Mobil Paman Si Toni (hal. 59). Begitu pula masalah kecurangan pemilu yang telah dipuisikan tersendiri dalam judul Kotak Suara (hal. 12), masih diulang lagi dalam puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (hal. 19). Pengulangan-pengulangan persoalan yang sama juga terjadi pada puisi-puisi lainnya dalam bagian pertama.

Akan tetapi, pengulangan tema-tema tidak terjadi pada bagian kedua dan ketiga. Hal itu karena puisi-puisi pada bagian kedua dan ketiga lahir dalam selang waktu cukup panjang. Lama waktu atau jarak kelahiran antarpuisi mempengaruhi intensitas perenungan. Semakin cukup waktu semakin matang dan utuh mengkristal. Walaupun demikian, penulis tidak bermaksud mengatakan bahwa puisi-puisi pada bagian pertama bersifat prematur.

Akhirnya, terlepas dari kekurangan yang ada, harus diakui bahwa kehadiran puisi ini dalam khasanah sastra Indonesia tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia merupakan lecutan sugesti yang amat dalam nilainya. Kepincangan-kepincangan bangsa perlu disadari, diungkap, dan untuk kemudian diperbaiki. Dalam fungsi ini, Taufiq Ismail telah menyalakan obor pencerahan secara nyata. Sehingga, kelak suatu saat nanti situasi dan kondisi bangsa kita tidak lagi memalukan, sebab sebagai bangsa yang besar seharusnya kita dapat mengukir keberhasilan-keberhasilan besar di segala bidang kehidupan. Bukan justru sebaliknya. Semoga pula, tersebarnya buku kumpulan puisi ini ke sekolah-sekolah di tanah air akan mampu membentuk generasi penerus yang tidak memalukan.

---------- selesai ----------

DAFTAR PUSTAKA

Hardjana, Andre. 1982. Kritik Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia

Ismail, Taufiq. 1993. Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Ananda

Ismail, Taufiq. 2000. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jakarta: Yayasan

Indonesa

Jassin, H.B. 1985. Chairil Anwar Pelopor Angkatan ‘45. Jakarta: Gunung Agung

Waluyo, Herman J.1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga

1 komentar:

CYBER GURU mengatakan...

mantap
salam kenal